Belanjaan Anda

Your cart is currently empty.

Return to shop

Vaginismus. Ketika Vagina Mempunyai Self-Defense Berlebih.

Sepasang suami istri yang sedang menjalani hubungan jarak jauh memutuskan untuk melakukan program kehamilan.

Mereka kemudian datang ke sebuah klinik untuk memeriksa organ reproduksi masing-masing. Namun, hal tidak menyenangkan terjadi pada saat sang istri melakukan pemeriksaan.

Ketika menjalani proses USG transvaginal dan HSG, sang istri merasakan kesakitan yang berlebihan. Disitu ia tahu ada keganjilan pada organ kewanitaannya.

Sang istri kemudian mencari tahu mengenai masalah yang ia hadapi saat menjalani pemeriksaan. Ia pun menemukan sebuah kondisi yang disebut dengan vaginismus.

Setelah memeriksa kondisinya lebih lanjut ke dokter kandungan, ternyata memang benar, ia didiagnosa mengidap vaginismus dengan tingkat keparahan yang cukup tinggi.

Hal ini membuatnya kesulitan untuk menerima penetrasi dalam keadaan apapun.

Seketika itu, dunia sang istri terasa hancur— ia merasa seperti wanita yang kurang sempurna. Terlebih lagi, keinginannya dan sang suami untuk mempunyai buah hati harus tertunda.

Mengapa kasus di atas dapat terjadi? Simak penjelasannya di bawah ini.

 

Mengenal Vaginismus

Dua sampai tiga persen wanita di Indonesia mengalami gangguan disfungsi seksual bernama vaginismus, yaitu keadaan di mana tubuh seperti menolak untuk berhubungan seksual.

Kondisi ini dikarenakan kekejangan abnormal otot vagina di sepertiga bagian luar dan di sekitar vagina. Reaksi fisik ini juga terjadi terhadap segala usaha rangsangan di area vital.

Ketika rangsangan dilakukan, penderita tanpa sadar akan bereaksi dengan mengencangkan otot panggul, mengangkat paha, dan menutup pahanya sebagai bentuk penolakan terhadap percobaan penetrasi.

Banyak persepsi-persepsi yang keliru terkait terjadinya gangguan vaginismus pada seseorang. Beberapa diantaranya seperti ukuran vagina yang terlalu kecil, pemikiran bahwa penetrasi pada vagina akan terlalu sakit, atau menganggap tubuh kurang rileks saat melakukan penetrasi.

Padahal, menurut dr. Robbi Asri Wicaksono, SpOG, penyebab dari vaginismus masih belum diketahui lebih lanjut, dan tidak sama sekali berhubungan dengan rileks atau tidaknya sang penderita.

Otot yang terserang vaginismus bekerja di luar kontrol pemiliknya, sehingga dalam keadaan rileks pun otot tersebut tidak dapat dikendalikan.

Vaginismus memiliki derajat keparahan yang beragam, dan penting untuk diketahui demi membantu mengambil tindakan untuk penyembuhan penderitanya.

Tingkat pertama, kaku otot vagina minimal. Pasien dapat melakukan pemeriksaan setelah ditenangkan.

Tingkat kedua, kaku otot vagina lebih luas. Kekakukan tetap akan muncul walaupun pasien sudah ditenangkan dan diberi pengertian.

Ketiga, kaku otot vagina cukup parah. Pasien berusaha untuk mengangkat bokong untuk menghindari pemeriksaan.

Tingkat keempat, pasien akan menarik diri menjauh dan menutup pahanya rapat-rapat untuk menghindari penetrasi dalam bentuk apapun.

Tingkat kelima dan yang paling parah, akan terjadi reaksi tubuh secara menyeluruh, seperti tingkatan denyut jantung, nafas tidak teratur, gemetar, mual muntah, menangis, pingsan, mencoba kabur, bahkan menyerang dokter yang memeriksa.

Bahayanya Terhadap Mental Penderita

Seperti kasus di atas, vaginismus tidak hanya berefek pada fisik penderitanya, namun juga mental dan hubungannya dengan sang pasangan.

Tidak sedikit pasangan yang sudah lama menikah, namun karena sang istri mengidap vaginismus, mereka belum pernah berhubungan seksual sama sekali.

Hal ini membuat sang istri merasa bersalah karena tidak dapat memenuhi kebutuhan biologis suaminya, apalagi mengetahui bahwa kondisi ini juga bisa menghambat mereka untuk mempunyai buah hati.

Terlebih lagi banyak penilaian dari orang-orang sekitar yang banyak menyalahkan penderita vaginismus dengan komentarnya yang kurang enak untuk didengar.

Tentunya jika tidak segera ditangani, masalah-masalah ini akan menimbulkan frustasi dan depresi pada penderitanya. Wanita yang mengidap vaginismus cenderung merasa terpuruk, dan bersalah atas keadaannya, meskipun ia tidak bisa mengontrol reaksi fisiknya.

Masih Bisa Disembuhkan

Vaginismus dapat disembuhkan dengan menjalani prosedur dilatasi.

Dilatasi adalah sebuah proses penetrasi buatan, bisa dilakukan dengan jari sendiri maupun dengan dilator.

Tidak semua penderita dapat dengan mudah melakukan prosedur tersebut, bergantung pada tingkat keparahan vaginismus yang diderita.

Pada tingkat yang rendah, pasien dapat mulai berlatih dilatasi dengan menggunakan jarinya, namun pada tingkat menengah dan tinggi, latihan dilatasi tidak dapat dilakuan secara mandiri, sehingga harus melakukan dilatasi berbantu.

Selain itu, penderita vaginismus juga perlu berlatih meningkatkan keberanian dan kepercayaan diri karena sebagian besar penderita bahkan takut untuk melihat vaginanya sendiri.

Latihan dilatasi juga disarankan secara bertahap, mulai dari memasukan satu jari dan meningkat secara ukuran menjadi dua jari dan seterusnya. Penggunaan pelumas juga akan membantu proses latihan dilatasi.

Yang tidak kalah penting adalah mendapatkan dukungan yang tepat dari orang-orang sekitar, terutama dari pasangan bagi penderita yang sudah menikah.

Berbagi pengalaman dengan sesama penderita vaginismus dan mendapatkan bantuan dari dokter yang tepat juga berpengaruh besar terhadap kesembuhan penderita.

Tanamkan pemikiran positif bahwasanya keadaan vaginismus bukan sama sekali salah penderita, serta tanamkan juga kepercayaan diri mereka bahwa kondisi tersebut dapat disembuhkan.