Belanjaan Anda

Your cart is currently empty.

Return to shop

Siklus Menstruasi Mempengaruhi Kesehatan Tubuh? Cek Faktanya!

Wanita adalah mahluk yang luar biasa karena diciptakan oleh Tuhan dengan sebuah organ reproduksi bernama rahim. Rahim mempunyai dinding yang mempunyai pembuluh darah dan akan menebal demi mempersiapkan terjadinya kehamilan.

Namun, jika tidak ada pembuahan pada sel telur, maka dinding rahim ini akan meluruh dan keluar bersama darah melalui vagina. Proses inilah yang disebut dengan menstruasi atau datang bulan.

Siklus yang diawali dari hari pertama menstruasi hingga kembali ke hari pertama menstruasi berikutnya ini mempunyai hormon-hormon yang berperan penting dalam berlangsungnya siklus, antara lain adalah Gonadotropine Relasing Hormone (GnRH), Follicle Stimulating Hormone (FSH), Luteinizing hormone (LH), Estrogen dan juga Progesteron.

Siklus menstruasi yang normal berlangsung selama 28 hari, walaupun tidak semua orang mempunyai panjang siklus yang sama, bisa lebih pendek ataupun lebih panjang.

Ada 3fase dalam siklus ini:

Fase Follicular

Fase Follicular dimulai di hari pertama terjadi menstruasi. Dalam fase ini, kadar dari hormon estrogen dan progesterone rendah, sehingga dinding rahim yang menebal akan meluruh dan terjadi pendarahan menstruasi. Setelah itu, kadar hormon Folicle-Stimulating sedikit meningkat, menstimulasi berkembangnya hormon Follicle di ovarium. Setiap Follicle ini membawa sel telur, hingga pada akhirnya hormon Follicle akan berkurang sedikit demi sedikit sampai meninggalkan satu Follicle yang terus berkembang dan memproduksi hormon Estrogen.

Fase Ovulatory

Melonjaknya hormon Lutenizing dan menurunnya hormon Folicle-Stimulating menandakan dimulainya fase ini. Hormon Lutenizing akan merangsang pelepasan sel telur atau yang biasa disebut ovulasi, yang terjadi selama 16 hingga 32 jam setelah terjadi peningkatan hormon Lutenizing. Kadar Estrogen akan menurun dan progesteron mulai meningkat.

Fase Luteal

Selama fase ini, kadar hormon Lutenizing akan menurun. Folicle yang pecah kemudian akan mengeluarkan sel telur dan membentuk Corpus Luteum yang menghasilkan Progesteron. Kadar Estrogen menjadi tinggi di sebagian besar fase ini. Bersama dengan hormon Progesteron, kedua hormon ini akan membuat dinding rahim menjadi tebal sehingga akan siap jika terjadi pembuahan.

Jika tidak terjadi pembuahan, Corpus Luteum akan berhenti terbentuk dan tidak lagi menghasilkan Progesteron, maka siklus ini akan kembali lagi ke fase pertama: fase Follicular. Namun, jika ada pembuahan, Corpus Luteum akan terus bekerja hingga fase awal kehamilan.

Lalu, apakah siklus menstruasi ini mempunyai efek pada kesehatan seseorang? Dilansir dari halaman website Women’s Health, perubahan tingkat kadar hormon yang terjadi ketika siklus menstruasi berlangsung berperan banyak pada perubahan kesehatan yang terjadi, bahkan kadang bisa memperburuk kondisi kesehatan yang sedang dialami oleh wanita yang mengalami siklus menstruasi. Penyakit yang kemungkinan dapat terjadi karena siklus menstruasi adalah:

1. Anemia
Anemia merupakan kondisi kurangnya peredaran oksigen ke seluruh tubuh yang disebabkan kurangnya atau tidak berfungsinya sel darah merah dalam tubuh. Hal ini akan semakin parah jika seseorang mengalami pendarah yang berlebihan saat menstruasi. Anemia akan menyebabkan seseorang menjadi merasa letih dan lesu.

2. Asma
Pemilik asma perlu lebih berhati-hati ketika sedang menstruasi. Pasalnya, telah dilakukan penelitian yang mengatakan bahwa asma bisa semakin buruk ketika menstruasi. Beberapa gejalanya adalah mengi atau napas bunyi yang memburuk antara hari ke-10 hingga 22 dan juga sesak nafas yang memburuk antara hari ke-7 hingga 22, ditambah batuk-batuk.

3. Depresi
Banyak orang yang sudah familiar dengan istilah Pre Menstruasi Syndrome (PMS), di mana mereka merasakan emosi yang tidak stabil sebelum menstruasi. Namun, sebenarnya ada kondisi yang lebih parah. Premenstrual Dysphoric Syndrome (PMDD) mempunyai kaitan erat dengan gangguan mood drastis dengan gejala awal yang mirip dengan PMS. Orang yang terkena PMDD memiliki gejala seperti merasakan ketidakbahagiaan yang ekstrim, merasa tidak berguna, nyeri payudara atau bengkak, merasa lelah sepanjang waktu, dan lain-lain.

4. Diabetes
Siklus menstruasi yang tidak teratur dapat menjadi pertanda bahwa seseorang mengidap diabetes tipe 2. Situs WebMD menjelaskan bahwa dari 190 remaja putri yang mengidap diabetes tipe 2 tanpa mengkonsumsi obat hormonal, 39 diantaranya memiliki haid yang tidak teratur.

5. Irritable Bowel Syndrome (IBS)
IBS adalah gangguan sistem pencernaan jangka panjang yang umum terjadi. IBS sering menyerang wanita berumur kurang dari 50 tahun. Munculnya IBS dipicu oleh keadaan stress, makanan tertentu, ataupun perubahan hormon yang terjadi pada saat menstruasi. Beberapa gejala yang muncul adalah diare, perut kembung, nyeri punggung, rasa panas di dada dan lain-lain.

6. Sulit Hamil
Wanita yang siklus menstruasinya tidak teratur memiliki kesempatan hamil yang lebih kecil karena masa ovulasinya yang tidak pasti.30-40% masalah ketidaksuburan datang dari masalah tidak teraturnya ovulasi ini.

Siklus yang kurang teratur memang sering terjadi pada banyak wanita dan sudah dianggap normal, namun, konsultasi kepada dokter tetap diperlukan jika hal-hal berikut ini terjadi:

  1. Telat menstruasi selama tiga bulan tanpa hadirnya kehamilan, menyusui, dalam perimenopause atau menopause.
  2. Menstruasi yang terlalu sering (terjadi kembali setelah kurang dari 24 hari), atau terlalu lama (tidak menstruasi lebih dari 38 hari), durasi menstruasi terlalu panjang (lebih dari 8 hari).
  3. Merasa pusing, lesu, lelah, atau merasakan rasa sakit di dada atau susah bernapas selama atau setelah menstruasi.
  4. Pendarahan yang berlebihan sehingga harus mengganti pembalut/tampon/menstrual cup setiap satu-dua jam.
  5. Merasakan demam setelah memakai tampon/menstrual cup.
  6. Merasakan sakit saat menstruasi yang berkepanjangan dan tidak membaik walaupun sudah mengkonsumsi obat-obatan.
  7. Rasa sakit yang mengganggu aktivitas sehari-sehari.
  8. Merasakan migrain selama menstruasi.
  9. Mengeluarkan gumpalan darah ketika menstruasi yang cukup besar.
  10. Berdarah setelah berhubungan sex dan terjadi berkali-kali.